Apresiasi dalam bentuk apa?

Leave a comment

June 2, 2016 by Kanin's thought

Assalammualaykum, guys…

image

Bagaimana cara kita mengapresiasikan sesuatu dalam hidup ini? Ada yang tertawa hahahihi, berdansa dan menyanyi gembira, ada yang mengagumi keindahan dunia dan mengabadikannya melalui kamera, ada juga yang sepertiku, duduk sendiri di kedai kopi membaca buku atau sambil tiduran. Untuk menyelami kehidupan yang tak pernah ku tahu apa yang terjadi diluar sana, Buku adalah informasi yang aku tidak perlu melakukannya sendiri untuk mendapatkan informasi dan pelajaran atas suatu hal. Buku adalah jendela dunia, kemana saja aku ingin pergi, bagaimana saja perasaan yang harus ku rasakan tapi tak perlu mengalami sendiri.

Aku sangat menyukai membaca buku, sangat suka. lalu, ada teman ngomong begini,
“kok kamu baca buku terus, ga pernah ngaji?”
“aku liat-liat kamu ngutip kata buku, bukan kata Quran.”
“kapan-kapan ngaji ya, jangan buku terus yang dibaca”

Aku cuma bisa tertawa mendengar celotehan mereka mengingatkanku, aku bersyukur punya teman yang mengingatkanku akan hal baik. Tapi, sangat disayangkan point plus itu hilang seketika saat mereka membahas hal demikian. Apa iya, aku harus laporan setiap aku mengaji selesai maghrib sampe isya atau sesudah Tahajjud sebelum subuh? apa aku harus memberikan foto bukti untuk mereka?

Astaghfirullah, kita didunia ini cuma sementara guys. apa sih yang dicari? kalian mau dapat pujian manusia atau ALLAH? Mau dapat pahala dan pujian dari Allah, yaudah ga usah menyombongkan apa yang kalian lakukan untuk Allah. Allah ga butuh kok. apalagi pake laporan ke manusia, “aku habis ngaji, adem banget. habis sholat, adem banget, jadi tenang.” maaf, tapi itu sangat tidak baik menurutku. untuk apa? hahaha. kalau memang niatnya supaya manusia lain mengikuti kalian berbuat baik, cukup sampaikan walaupun dalam satu ayat. Janganlah berburuk sangka juga, apalagi menghakimi orang lain yang gemar membaca buku. dikira tidak pernah mengaji, atau sholat.

Aku cuma bisa tertawa, kok bisa. katanya ilmu agamanya tinggi, tapi kok begitu. Sejak kapan Islam mengajarkan kalau orang baik itu yang harus menyampaikan apa saja dalam Al Quran? Guys.. bukan hanya di sampaikan, tapi juga di amalkan setiap harinya. Bahkan, kalau kalian sudah pernah membaca tentang kisah Umar bin khatb yang membaca Quran dan selalu di Surat Al Baqarah selama beberapa tahun, dan dia selalu menanyakan kepada Rasulullah SAW apakah sifat dan kehidupannya sudah mencerminkan seperti surat Al Baqarah? Rasulullah menjawabnya, kalau Umar bin khatb sudah menunjukkan sifat Surat tersebut. barulah, Umar melanjutkan ke ayat lain. Itu yang terpenting, bukan seberapa sering kalian katam Quran, tapi seberapa banyak kita memahami dan mengamalkan Al Quran.

Kalau, aku menuliskan kutipan hadist atau Quran. Pasti dibelakang, ada yang bilang begini “ah orang ini sok alim banget. kesel liatnya” kalau aku menuliskan hal lain sesuai buku “yang dibaca Buku terus, ga pernah baca Quran ya?” hahhaa…. kasian. kalian tetap manusia biasa guys, tidak penting pendapat kalian. yang penting aku dimata Allah. masa aku mau ngaji, aku laporan dulu sama kalian sih? mau Sholat juga absen dulu. Yaa Allah… itu aku pencitraan apa gimana ya kalo kaya gitu?

Aku merupakan penggemar dari mereka yang bangun disepertiga malam untuk mendekatkan diri dengan Allah, bermesraan dan berbagi cerita kepadaNya. Bukan berarti aku sudah seperti mereka, aku masih jauh dari itu dan masih belajar. Aku masih memperbaiki niat untuk apa aku bangun tengah malam? Apakah Sholatku untuk Allah, apakah aku sholat karena menginginkan sesuatu, ataukah Sholat hanya untuk dipandang dan dinilai oleh manusia? Dan, semua itu hanya Allah yang tau. Ikhlas tidaknya kita menunaikannya.

Aku penggemar buku, apapun baik islami maupun fiksi. Belum, memang aku belum sebaik mereka, aku masih terus mencari dan belajar. Memahami dan mengamalkan. Hanya saja, memang buku menjadi salah satu media ku mencari kebenaran dan informasi yang aku belum ketahui sebelumnya, berteman dengan orang-orang yang memahami Agama agar selalu mengingatkan, tapi tidak untuk menilai apakah aku baik atau tidak. Hanya Allah yang bisa menentukan apakah orang itu baik atau tidak, dan aku membutuhkan sosok yang mampu mengingatkan tanpa berprasangka, bukankah itu sulit? Semoga kita menjadi lebih baik, saling mengingatkan menuju kebaikan tanpa menyakiti perasaan orang lain.

Wassalammualaykum warahmatullah…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Instagram

There was an error retrieving images from Instagram. An attempt will be remade in a few minutes.

%d bloggers like this: