Throwback time

Leave a comment

June 20, 2016 by Kanin's thought

Asalammualaykum, guys~

image

(Kaget ya tetiba nongol wajahku disini? Sorry guys…)

image

image

image

image

(bonus foto saat aku sama rara ke pantai, bermain ombak, mencari kerang laut hinga fosil sampai bercerita di bibir pantai menikmati suara deburan ombak dan keindahan yang dibawa serta)

Pernah ga sih? ngrasa kangen pada masa lalu? orang-orang yang mengisi hari dan ingatan kita? yang membuat kita tersenyum dan berdebar bahkan sedih dan kecewa saat mengingatnya, entah itu waktu atau orang yang pernah ada di kehidupan kita. Lalu, sembari kita mengingatnya merapikan file-file yang ada di otak kita, membenahi perasaan sekarang agar tak terpaut dengan masa lalu, hanya bayangan sekilas tentang ingatan atau kenangan samar dan buram akan sesuatu atau tidak mengingatnya atau bahkan sangat mengingatnya karena kenangan itu sangat pahit dan menyakitkan? sehingga, pikiran kita terus mengubur kenangan itu. Kita pasti akan sangat bahagia, jika bisa melupakan kenangan pahit dan menyenangkan. Lantas, apa jika kenangan itu bahagia dan menyenangkan kita selalu mengingatnya.

Aku, tipe orang yang jika melihat sesuatu atau mendengar sesuatu. Maka, aku akan mengingat hal atau kenangan yang pernah terjadi saat aku mendengar lagu itu pada saat ini, yang melemparku jauh ke masa lalu saat mendengarkan lagu itu. Atau, saat menatap foto masa lalu, aku akan kembali mengingatnya seperti rekaman film yang terbersit dalam ingatan “ah~ dulu aku pernah begini dan begini sampai begini karena ini…”

Dari jaman SD, aku sudah belajar menulis buku harian yang sampai saat ini masih ada. Lalu, ketika aku membacanya. Perasaan konyol aku bilang, karena selalu berpikir “wah… jaman dulu aku begini sekali sih, masalah begini saja di tulis” namun, hobby menulis itu terbawa sampai sekarang. Ketika aku membaca buku harian ku saat remaja

“Astaga.. aku pernah begini?”

“hah? aku pernah naksir orang ini, ahh pantas dia sekarang begini.”

“Ih… kok aku mikir begini sih dulu?”

“wah ternyata aku sudah begini ya dulu…”

Dan, tanpa pernah aku sadari. Hidupku saat ini, terjawab lewat buku harianku. Masalah yang aku hadapi saat ini, sudah terjawab oleh masa laluku.

Seperti halnya saat aku memiliki masalah, lalu aku menuliskannya dalam buku harian. Namun, beberapa saat kemudian sudah ada jawaban di beberapa halaman berikutnya. Dan, tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi, setidaknya saat memoriku membawanya kembali ketika menghadapi masalah yang sama, jawaban dari permasalah sudah tertulis rapi dengan kalimat emosional yang menguras hati bahkan ketika aku membacanya kembali.

Seperti saat-saat aku pernah dibahagiakan, lalu di kecewakan. Ketika aku jatuh cinta pertama kalinya dengan kakak kelas saat SMP, saat aku kecewa karena diriku sendiri atau orang lain, ketika aku merasakan tak ada satu orang pun yang berdiri bersamaku, ketika masalah datang dan terjawab.

Aku belajar dari tulisan masa laluku, jika aku seperti saat itu lagi aku sudah memiliki cara dan jalan keluar yang mungkin dulu tak terjawab. Semua itu, buku harian itu, tulisan dan kalimat-kalimat emosional itu menjadikan aku seperti saat ini. Bagaimana aku saat ini? kalian akan tau seiring berjalannya waktu kan? aku bukanlah buku terbuka yang sangat mudah kalian baca, kalian bisa mengetahui, mengenal dan menyukai buku itu ketika kalian rajin membacanya. Bahkan, setelah kalian baca kalian akan tetap ketagihan ingin terus membacanya tanpa berhenti. Itulah seharusnya yang kalian lakukan padaku, dan pada orang lain juga.

Sampul selalu bisa membohongi pembaca, bisa menjadikannya tak berminat untuk sekedar melirik atau membawa pembaca lebih tertarik akan halaman buku tersebut. Semakin kita membaca, semakin kita terhanyut oleh alurnya. Bisa membuatmu ikut menangis, tertawa, kecewa, bahagia bahkan antipati terhadap sesuatu.

Itu tentang buku, lalu tentang lagu yang selalu membawaku dalam ingatan masa lalu ketika dulu aku mendengar lagu itu. Bukan hanya sekedar lirik yang membuatku meratapi atau terbawa lagu, tapi lebih karena “kenangan apa yang terjadi saat aku mendengar lagu ini dulu?” lalu, perasaan itu datang tanpa di undang. Seperti ketika, cinta pertamaku yang menyatakan cintanya kepadaku lewat lagu d’cinnamons ‘selamanya cinta’ yang pernah aku tuliskan di buku harianku, yang pernah aku baca kembali dan berulang kali, tapi perasaan positive saat mendengar lagu itu sampai sekarang masih tertawa. Membuatku tersenyum dan mengangkat mood ku. ah… bagaimana kalau dia baca ini? haha… mungkin dia sudah lupa.

“hai mas, apakabar? 🙂 makasih udah baca blognya anin”

(ya kalo baca, kalo ga yaudah sih)

Tentang lagu, kemudian tentang foto… Ini, yang sangaaaaaaaaat membuatku kecewa. Aku tak banyak mengabadikan moment dari kenangan masa lalu, jadi ketika ingatan itu samar. Aku bahkan tak bisa mengingatnya. Foto sangat kita butuhkan mungkin untuk 3,5,10,15 atau 20 tahun lagi. Lalu, kita bisa sambil tersenyum mengingatnya. Kepingan masa lalu tetap akan selalu ada, karena masa lali bagian dari kita. Hanya, tempatnya jauh di belakang kita yang bisa membuat kita bersungut-sungut melupakannya atau mengingatnya.

Dan, aku tipe orang yang akan mengingatnya. Setiap detilnya. Saat ini, aku sedang berusaha mengumpulkan foto saat ini selain tulisan. Agar aku akan mengingatnya beberapa tahun kedepan.

“Sudah berulang kali aku mencari arah. Berkali-kali jatuh pada selatan. Tersesat ke dalam barat. Menaruh harap pada timur. Hingga utara pun tak sanggup aku percayai.”

Wasalammualaykum warahmatullah~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Instagram

There was an error retrieving images from Instagram. An attempt will be remade in a few minutes.

%d bloggers like this: