It’s not always about love

Leave a comment

March 22, 2017 by Kanin's thought

Assalamualaykum guys…
Aku baca sebuah kalimat, yang penuh dengan harapan mencapai rasa di relung hatiku. Sebuah kalimat yang dengan penuh keraguan mempertanyakan sebuah harapan, “How would you feel, if i told you ‘i love you’?” Bagaimana perasaanmu, jika aku bilang ‘aku cinta kamu’? 

Kamu ini siapa? Obyek yang belum aku temukan, karena pada dasarnya aku memang sering mengatakan “i love you” kepada teman daripada pasangan atau orang tua. 

Entah kenapa, kalimat itu seakan ringan untuk aku katakan kepada teman-teman daripada pasangan atau orang tua walau aku mencintai mereka. Yang aku rasa, tidak usah aku katakan mereka sudah mengetahuinya, lalu kenapa aku mengatakannya pada teman?

Ya, aku cukup lemah mengutarakan perasaanku dalam sebuah kalimat romantis. Lebih baik aku berdiam, mengundurkan diri daripada mereka tau apa yang aku rasakan. Pernah suatu waktu, seorang teman asing bicara padaku “you should have to say that you love someone, it will be change your world” dan aku hanya belum siap mengatakannya hingga membuatnya marah dengan kekeras kepala an ku. 

Aku bukan tipe orang yang bisa mengutarakan perasaanku dengan mudah, mungkin aku sering mengutarakan pikiranku, namun tidak dengan apa yang aku rasakan. Lebih baik aku memendamnya sendiri, karena tentu aku takut kecewa dan terluka.

Lalu membaca kalimat di atas, bagaimana jika obyek adalah ke dua orang tua atau keluarga? Dimana aku tidak pernah mengutarakan betapa aku mencintai mereka, hingga saat ini. 

Apa yang akan mereka katakan jika aku mengatakan aku cinta mereka? Lalu apa yang akan terjadi? Apakah mereka akan menganggapku aneh?

Atau aku berusaha mengatakan bahwa aku mencintai pasanganku, yang saat ini belum ada? Namun, bagaimana perasaannya apakah dia baik-baik saja jika aku seorang wanita mengatakan bahwa aku mencintainya?

Ah, aku jadi teringat beberapa tahun lalu saat masih duduk di bangku SMA. Dimana aku pernah menyukai seorang pria yang membuat hari-hariku berwarna, lalu aku mengatakan bahwa aku menyukainya. 

Lega sekali rasanya, aku tak lagi diam-dia menyukainya atau menyembunyikan perasaanku. Namun, dia berkata “jangan pernah kamu ngomong ke pria lain bahwa kamu menyukaiku, kamu wanita kodratmu itu di cinta” aku menangis untuk sekian lama, berusaha menyembuhkan lukaku. Tak hanya hatiku, namun pikiranku, aku merasa sangat terluka bahkan hingga kini rasa luka itu masih teringat jelas. 

Membuatku takut akan rasa, akan mencinta, membuatku takut akan luka dan kecewa. 

Seiring berjalannya waktu, aku tak lagi perduli. Aku mencoba mengesampingkan perasaanku, membuatnya benar-benar kasihan. Aku mulai gagu untuk mengatakan cinta, untuk mengutarakan perasaan, aku mulai ragu jika memang ada rasa itu dalam hatiku.

Membaca kalimat demi kalimat hingga kembuatku menuliskannya di sini, who are you? Siapa kamu? 

Aku masih meragukannya, apakah aku berani mengutarakannya? Ataukah terus memendam hingga rasa itu hilang? Atau terus terdiam hingga bayangannya meredam?

Yang aku bisa rasakan hanyalah, “aku merindukannya, aku ingin selalu bersamanya, aku ingin menulis kenangan indahku bersamanya, aku ingin melewati hariku bersamanya” bukannya “aku mencintainya”.

Wassalammualaykum

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Instagram

There was an error retrieving images from Instagram. An attempt will be remade in a few minutes.

%d bloggers like this: